Ekstrakurikuler, Kreatif

Apakah kamu pernah merasakan cinta saat di SMA? Bisa jadi ini mirip dengan kisah kamu!

7005827-vintage-love-photography

YOU ARE MY VALENTINE

Aku sangat suka 14 Februari, hari itu kesedihan, kebahagiaan, dan kerinduan beradu menjadi satu, berkecamuk dalam dada, membawaku kembali ke saat saat dimana semua rasa itu mendera. Hari itu, aku mulai tahu apa itu perasaan yang disebut cinta. –Zahra 2017.

http://s1.favim.com/orig/4/alone-photography-railway-snow-Favim.com-158053.jpg

alone

                26 Mei 2015. Namaku Zahra Athaya. Hidupku kelam, gelap, urakan, dan semua istilah jelek lainnya. Malam adalah dunia utama bagiku. Aku hidup sendiri, terpisah dari belenggu memuakkan dari Papahku. Untung saja, Papah masih membiayaiku dengan memberi uang bulanan yang cukup banyak. Aku jadi bebas menggunakan uang itu semauku.

                Suara keras dari mesin dj itu membuatku sangat menikmati malam ini. Sial, wine ini sangat enak, aku sampai lupa sudah berapa gelas yang kuhabiskan. Untung saja uang pemberian Papah masih banyak. So, aku bisa minum lebih banyak lagi malam ini, kalau perlu, bartendernya sekalian aku beli deh.

                Sialan, kakiku sangat sulit untuk berjalan, tidak apa-apa, efek setelah minum memang begitu, aku sudah terbiasa. Ya, terbiasa dipapah oleh sahabatku yang satu ini – Alya. “Haduuh.. dasar!! Pas minum enak-enakan sendirian! Setelah minum, aku juga yang kerepotan!” Katanya agak kesal. “Hey, salah siapa tadi kamu gak ikut minum juga? Kan aku juga yang bayar.” Kataku santai. Sahabatku yang satu ini memang sama denganku – urakan, kasar, dan lain-lain lah pokoknya. Tapi, ada satu hal darinya yang sangat bertolak belakang denganku, dia sangat tidak kuat dengan alkohol. Hah. Payah!

                Kriiiiiiinnnnggggg….. Alarm keparat! Mau tidak mau kupaksakan diri ini untuk bangun. Sisa minum semalam belum sembuh benar. Maklum, semalam habis pesta. Segera kulangkahlan kaki keluar rumah alias ke sekolah. “Hwaaaaa!!!!” Seru Alya dari balik pintu. “Hiiiih, kok kamu gak kaget sih?” Katanya. “Yee, kamu ngagetin kaya gini itu tiap hari. Mana mungkin aku bisa kaget.” Kataku yang memang benar faktanya begitu. Entah kenapa, suara dia yang cemprengnya ngalahin bebek itu selalu membuka hariku, suara kedua yang kudengar setelah bunyi alarm sialan itu. Tapi kalau suara Alya gak sialan, karena aku sayang padanya. Eits, tapi sayang sebagai sahabat loh ya, emang aku lesbian apa.

                Kami duduk di bangku kelas 2 SMA Persada Nasional. Aku cukup nyaman dengan sekolahku. Yap, nyaman tidak mengerjakan pr, nyaman membolos, nyaman menyontek, dan lain-lain yang jelek aku sangat nyaman. Guru-guru? Hah, sepertinya mereka lelah menghukumku, jadi, aku dibiarkan saja seperti ini. Braakk. Tubuh kekar dan tinggi itu menabrakku persis setelah tikungan menuju kelasku. Otot-otot di tangannya sangat ketara, sepertinya dia olahragawan yang tangannya kasar kayak pelabuhan – alias kapalan. Kami berdua sama-sama terjatuh ke lantai, lalu dia menjulurkan tangannya kepadaku, aku menerimanya dengan baik. Oh tidak, ternyata aku salah. Tangan yang sangat ketara dengan otot-ototnya itu sangat lembut, so touchable, dan, dan menenangkan. Oh my god, perasaan apa ini? Yang dipegang hanya tanganku, tapi seluruh jiwa ragaku juga terasa tersentuh. Pikiran-pikiran ini memenuhi otakku. “Sorry, kamu gapapa?” Katanya dengan sopan. “Eh, iya gapapa, maaf ya, ga sengaja nabrak.” Kujawab tak kalah sopan. “Iya, gapapa. Lain kali ati-ati yaa.” Akhirinya dengan senyuman yang entah kenapa itu membuatku sangat tertarik padanya. Tubuhnya yang kekar dan berwibawa, tangan berotot tetapi lembut, wajah tampan juga menyenangkan. Membuatku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.

http://entretodasascoisas.com.br/wp-content/uploads/2012/04/boy.jpeg

Dia

                Aku berlalu beberapa langkah meninggalkannya. “Tunggu!” Suara merdu itu langsung menghentikan langkahku. “Kamu duluan aja, Al.” Kataku pada Alya pelan. Dia menghampiriku, sekarang dia tepat di depanku, hanya berjarak dua kaki saja. “Nama kamu siapa?” Tanyanya. “Zahra, Zahra Athaya. Nama kamu siapa?” Tanyaku kembali. Namun dia hanya menunjuk sebuah tulisan kecil disamping kanan seragamnya, dan berlalu pergi dengan sebuah senyuman sangat memikat hati.

                “Ciee, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, kaya sinetron aja kamu Zah.” Kata Alya meledek. “Yee, apaan! Kamu kalau jadi aku juga bakal kaya gitu. Kamu liat gak sih? Dia itu ganteng banget, cool, good looking, perfect!” Kataku membela diri. “Iya iya, jadi, siapa namanya?”

                “Gak bisa dibiarin. Aku harus deket sama cowok itu. Dari sekian banyak cowok yang pegang tanganku, cuma dia yang bikin aku kaya gini.” Kataku dalam hati. Alya sudah kusuruh pulang sendiri tadi, aku mau bertemu dengannya seorang diri saja. Lebih tepatnya, aku sengaja menunggunya di pintu gerbang agar bertemu dengannya. Sudah setengah jam aku menunggunya, tapi batang hidungnya yang mancung saja belum terlihat sama sekali. Kuputuskan untuk masuk kembali ke dalam sekolah dan mencarinya di dalam.

                Baru bebera langkahku memasuki lobi, “Zahra Athaya.” Suara merdu itu memanggil namaku dari belakang. Aku tahu itu suaranya. “Zafran Askhiya.” Kataku mengucapkan nama lengkapnya dengan fasih dan hafal. “Sadar gak? Nama kita itu mirip.” Katanya dan sedikit membuatku berpikir. “Zahra Athaya.” Dia mengeja namaku lagi. “Zafran Askhiya.” Aku juga mengeja namanya lagi. Memang mirip, seperti memang sengaja diciptakan untuk mirip. Dari percakapan ini, aku dan Zafran menjadi sangat dekat.

                5 Januari 2016. “Zah? Ayo naik, kok diem?” Kata Zafran memintaku untuk naik ke atas motornya yang super keren itu. Hari ini, seperti biasa, aku pulang bersama Zafran. “Tadi gimana? Mbolos gak?” Tanyanya dan sedikit membuatku manyun. “Apaan sih, kok tanyanya gitu?” Jawabku agak kesal. “Iya dong, aku pengin kamu berubah, aku pengin kamu gak bolos bolos lagi, gak nakal nakal lagi, dan yang paling penting, gak minum minum lagi.” Katanya panjang lebar. Oke, hanya dia yang berhasil membuatku tidak bolos jam pelajaran, hanya dia yang membuatku sedikit berhenti nakal. Tapi, dia masih belum bisa menghentikanku dari kesukaan minumku. Entah kenapa aku tak bisa meninggalkan kehidupanku bersama gelas gelas di diskotik.

                “Empat belas Februari.” Kataku membuka kalimat. “Tanggal lahir kamu?” Tanya Zafran. “Iya, aku lahir pada hari dimana banyak orang yang menyebut  hari itu adalah hari kasih sayang.” Jawabku. Dia sangat baik dalam mengerti aku. Ya walaupun banyak hal dari kami yang bertolak belakang, terutama tentang sifat dan kepribadian.

“Aku sangat ingin mendapat hadiah valentine dari seseorang. Aku memang banyak bergaul, tapi aku tidak pernah menemukan seseorang sebaik kamu dan Alya. Alya pun hanya memberi hadiah kepadaku pada tanggal empat belas Februari sebagai hadiah ulang tahunku, bukan hadiah valentine. Aku ingin mendapatkan hadiah atas bentuk kasih sayang dari seseorang untukku. Aku memang mendapat kesenangan dari kebiasaanku minum, bergaul dengan banyak orang, tetapi batinku sama sekali tak ingin aku seperti ini. Aku ingin menjadi perempuan baik-baik, tapi aku gak bisa.” Kataku panjang lebar, sudah lama sekali aku ingin mengatakan ini pada seseorang.

“Kamu gak usah sedih, ada aku disini. Mulai sekarang, berusahalah menjadi seseorang yang lebih baik. Aku akan membantumu. Aku selalu disini untukmu. Aku mencintaimu.” Katanya. Tak terasa air mata mengalir deras dari ujung mataku, baru kali ini aku merasakan ketulusan dari seseorang. Zafran, dia yang aku cinta, dia yang mencintaiku, dia segalanya untukku. Aku bersyukur memilikinya, aku senang dia menerimaku apa adanya, ada di sampingku saat aku membutuhkan bantuan untuk mengubah diriku yang rusak ini.

Hari itu, aku memang telah berencana membawa Zafran ke rumah orang tuaku. Eits, bukan mau ngapa-ngapain loh ya. Aku ingin menjadi seseorang yang sedikit lebih baik. Langkah awal adalah tidak membolos, dan yang kedua, pulang ke rumah kedua orang tuaku. Dan aku harus mengajak Zafran karena dia yang telah berhasil menyadarkanku, dia yang berhasil mengubahku seperti ini.

“Tok tok tok.” Kuketuk pintu tiga kali. Seseorang yang kukenal sebagai bibi keluar dari balik pintu. Mempersilahkanku dan Zafran masuk, dan berseru “Bapak! Bapak! Non Zahra pulang!” serunya setengah berteriak. Aku sangat canggung dengan suasana rumah ini. “Zah, toilet dimana ya?” Tanya Zafran yang sepertinya lagi kebelet. “Kamu lurus aja, mentok, belok kiri.” Kataku menjelaskan, tentu saja aku masih ingat denah rumahku. Rumah ini memang masih sama bagusnya seperti dulu. Tidak ada renovasi penting sejak aku pergi.

Kaki kekar itu turun dari sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua. Dia terlihat masih muda, tampan, hanya sedikit saja keriput yang ada di wajahnya. “Zahra, akhirnya kau pulang, nak.” Katanya sambil memelukku. “Iya Pah, maafin aku udah durhaka sama Papah.” Kataku dengan aliran air mata yang membanjiri pipiku. “Iya iya, Papah memaafkanmu. Papah kangen banget sama kamu, Zah.” Katanya sambil melepaskan pelukannya dan mengusap rambutku. Kemudian kami berpelukan kembali, tak mengucapkan apapun, hanya tangis bahagia yang terdengar dari kami berdua.

“Pah, ada seseorang yang membuatku berubah seperti ini, dan aku sangat mencintainya.” Kataku membuka kalimat setelah kami berdua telah usai dengan tangisan masing-masing. “Oh ya? Siapakah dia? Boleh papah bertemu dengannya? Papah ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepadanya.” Katanya. “Aku mengajak dia kesini. Tapi, dia lagi di toilet. Bentar ya Pah, aku cari dulu.” Kataku lalu berlalu pergi mencari Zafran.

Nihil, aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi dia tidak ada. Bahkan aku sudah mencarinya ke lantai dua dan tiga, tapi dia tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk kembali menemui papah di bawah. Oh, sepertinya Zafran ada disana. Punggungnya yang kekar membelakangi dimana posisiku berada. Mereka berdua sama-sama mematung. Sebenarnya apa yang terjadi? Baru akan kulangkahkan kaki menuju mereka, “Zafran Askhiya!” Kata papah. Tidak mungkin, bahkan aku belum mengenalkan namanya pada Papah. Bagaimana papah bisa tahu?

Kuputuskan untuk mendengar pembicaraan mereka dari bawah tangga. “Kamu kemana saja selama sepuluh tahun ini?” Kata papah. Apa maksudnya? Sebenarnya siapa Zafran? Apa sebenarnya hubungan mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi pikiranku. Tanpa ada satupun yang aku tahu jawabannya.

“Aku, di rumah Paman, Pah.” Kata Zafran. PAH? Zafran menyebut Pah? Tenggerokanku tercekat mendengar kalimat itu. Apa dia anak papah dari istrinya yang lain? Ah, sepertinya tidak mungkin.

“Jadi, sebelum kamu kesini, kamu sudah bertemu dengan saudara kembarmu?” Kata Papah yang membuat seluruh dadaku sesak, nafasku tercekat, dan hati ini menjadi sakit.

Kemudian pikiranku melayang menuju hari-hariku bersama Zafran.

“Zahra Athaya.” Zafran mengeja namaku untuk kedua kalinya saat pertemuan kedua kami. “Zafran Askhiya.” Aku juga ikut mengejanya sekali lagi. Nama yang mirip dan terdengar seirama.

“Eh, kok muka kalian mirip?” Kata Alya saat melihat foto-fotoku dengan Zafran. “Kalian emang mirip, jangan-jangan jodoh, cieee.” Kata teman-teman sekelasku saat Zafran datang ke kelasku untuk yang ketiga kalinya. Wajah yang mirip. Kalau kupikir, hidung kita, mata kita, bentuk rahang kita memang mirip.

“Empat belas Februari.” Kataku saat itu. “Tanggal lahir kamu?” Tanya Zafran. “Iya, aku lahir pada hari dimana banyak orang yang menyebut  hari itu adalah hari kasih sayang.” Jawabku. “Aku juga lahir pada tanggal itu.” Ya, Zafran mengatakan dia juga lahir di hari yang sama denganku. 14 Februari.

Nama yang mirip dan terdengar seirama. Wajah yang mirip. Tanggal lahir yang sama. Begitu banyak tanda-tanda selama ini, kenapa aku tak pernah sadar sama sekali? Kenapa aku baru sadar saat rasa ini begitu dalam? Apakah hati ini ditakdirkan untuk dilarang mencinta?

Aku berjalan cepat melewati mereka, dan berlalu pergi. Percakapan mereka tadi meruntuhkan semangatku. Semangatku untuk berubah, semangatku untuk hidup, dan semangatku untuk mencintai Zafran.

“Kamu mau kemana Zah?” Teriak Zafran sambil mengejarku. Kupercepat langkahku setengah berlari. Namun sialnya, kaki panjang dan tubuh atletis Zafran mampu menyusulku. Sekarang, dia di depanku. Memegang pundakku. Matanya sembab, namun pipinya kering. Sepertinya air matanya telah dihapus. “Kamu kem-ba-ran-ku?” Tanyaku terbata-bata setengah menangis. “Iya. Aku sangat terkejut kamu membawaku ke rumah ini, rumahku dulu. Rumah yang kuhabiskan sampai umur lima tahun bersama kembaranku, aku tak ingat siapa namanya. Yang aku ingat hanyalah aku memang punya saudara kembar. Dan aku sangat terpukul setelah tahu kalau kamu adalah kembaranku.” Kata Zafran menjelaskan. “Tapi kenapa kamu gak cerita dari awal? Kamu gak pernah cerita tentang kehidupanmu. Kalau kamu cerita kamu ingat kamu punya kembaran, mungkin kita bisa menduga-duga siapa kembaran kamu. Dan kita, kita gak akan terjebak dalam perasaan yang dalam ini, Zafran!” Kataku sedikit emosi.

“Aku gak cerita karena menurutku itu sama sekali gak penting. Itu sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun yang lalu.” Jelasnya. “Gak penting? Gak penting kamu bilang? Kamu bilang kamu udah cerita semua kehidupanmu ke aku kan? Tapi kamu gak cerita masalah ini, kamu udah bohongin aku, Zaf.” Kataku kecewa. “Aku kecewa sama kamu! Gak usah hubungin aku lagi, sampai kita sadar, kita hanyalah sebatas saudara. Bukan dua orang yang saling mencinta sebagai insan yang berbeda.” Kataku menutup pembicaraan menyedihkan ini dan berlalu pergi.

Kenapa Tuhan? Kenapa harus dia saudara kembarku? Kenapa kau beritahu aku setelah aku jatuh cinta padanya? Kenapa kau beritahu aku setelah aku terlanjur tak bisa menerima kalau dia adalah saudaraku? Kenapa Tuhan? Pikiranku sangat kacau dan mendadak aku merasakan sakit yang termat sangat di perutku, sebenarnya sakit ini telah aku rasakan berbulan-bulan. Tetapi aku selalu mengabaikannya. Hingga sekarang rasa sakit itu berada pada puncak tersakitnya. Aku tak bisa mengabaikannya. Rasa sakit ini membuatku ingin mengakhiri hidup. Entah kenapa tanganku menjadi kuning. Mataku, wajahku, semua kuning. Dan semua berubah menjadi gelap.

                7 Januari 2016. Aku sangat lemas saat dokter berkata tadi. Liver. Zahra menderita liver yang sudah sangat parah. Kini, aku tak bisa lagi melihatnya tersenyum. Yang aku lihat hanyalah tubuhnya yang sekarang menjadi kuning sangat lemah tak berdaya. Bahkan untuk membuka matanya saja dia tak mampu.

                Hari ini tanggal 9 Februari, namun penyemangat hidupku belum juga membuka matanya. Bunga yang kubawa setiap hari sudah menumpuk memenuhi sudut ruangan. Al Qur’an yanng selalu kubaca di sampingnya sudah 24 juz kuhabiskan. Aku selalu menemaninya setiap pulang sekolah sampai akan berangkat sekolah. Sebenarnya ada Papah yang bisa menemaninya. Alya juga sering membolos sekolah dan kemari sampai larut malam. Tetapi aku benar-benar tak bisa kalau tak melihat wajahnya. Wajah yang memang benar-benar mirip denganku. Wajah yang kusesali kenapa malah mirip denganku. Dia sangat cantik. Saat di sampingnya, aku tak bisa berhenti menatapnya. Namun, semakin aku menatapnya, semakin aku cinta padanya. Dan semakin aku cinta padanya, semakin aku merasakan sakit kenapa cinta ini terhalang oleng sebuah dinding tak terlihat yang disebut persaudaraan.

                Aku ingin melihat Zahra membuka mata cantiknya itu. Tetapi, kalau dia sadar, dia harus segera dioperasi agar mampu bertahan hidup. Transplantasi hati. Hanya itu satu-satunya jalan agar Zahra punya harapan hidup. Tetapi mencari pendonor hati sangatlah sulit. Bahkan untuk rumah sakit sebesar ini pun sangat terasa sulit. Aku takut kalau dia membuka matanya, itulah saat terakhir aku dapat melihatnya.

                Tiba-tiba, aku merasakan ada sesuatu yang bergerak di jariku saat aku mengenggam tangannya. Tangan mungil itu bergerak perlahan. Sangat sedikit pergerakan namun aku masih bisa merasakan. Ku tatap matanya lekat-lekat. Berharap mata itu terbuka saat ini juga. Oh, dia berkedip! Perlahan namun pasti dia dapat membuka matanya untuk yang pertama kali sejak satu bulan lalu. “Zahra. Zahra kamu sadar!” Seruku setengah menangis terharu. Kemudian datang satu orang dokter dan dua perawat yang menyingkirkanku dari ranjang dimana Zahra terbaring. Mereka memeriksa Zahra, dan tersenyum kepadaku “Masa kritisnya sudah lewat, sehingga kita bisa melaksanakan operasi secepatnya.” Kata dokter itu sambil tersenyum sangat ramah.

                Deg! Operasi itu akan segera dilakukan? Kalimat Dokter tadi membuat tenggorokanku kering dan tak mampu berucap. “Zaf-ran.” Suara lemah itu memanggil namaku dengan agak terbata-bata. Aku menghampirinya. Mengusap rambutnya, kemudian menggenggam tangannya, dan duduk di sampingnya. Lalu senyum pahit terukir dari perempuan kuat yang sekarang terlihat lemah itu. Aku tak berkata apapun, yang aku lakukan hanyalah menatap matanya. Aku sangat takut ini adalah saat-saat terakhir aku bisa menatapnya. “Zah, masa kritismu sudah lewat.” Kataku pelan dengan senyuman yang terpaksa kuukir dari bibirku. Zahra hanya tersenyum mendengar kalimat yang aku ucapkan barusan.

                Besoknya, keadaan Zahra sudah sangat membaik. Hari ini aku tidak berangkat sekolah. Aku ingin melihat matanya terbuka terus-menerus. Aku tak ingin meninggalkannya. “Zaf, kok kamu gak sekolah?” Katanya, kali ini suaranya sudah sedikit lebih bertenaga. “Aku mau nemenin kamu aja disini.” Jawabku, aku memang sangat ingin menemaninya. “Berarti kamu bolos sekolah?” Katanya sambil sedikit tertawa. Dia masih ingat aku sangat anti membolos, sekarang malah aku yang membolos. Hahaha. “Aku rela tidak sekolah sama sekali untuk menemanimu.” Kataku dengan senyum menggoda. Aku yakin dia sangat rindu dengan senyumku yang satu ini. Kemudian senyum yang aku tunggu-tunggu akhirnya tersungging juga. Senyum dari Zahra yang periang, senyum lepas, ceria, tanpa beban.

                11 Februari 2016. “Zahra, dua hari lagi kamu akan dioperasi. Persiapkan dirimu yaa.” Kata Dokter itu dengan senyum menenangkan. Aku mengawasi mereka dari sudut ruangan. Kulihat Zahra tersenyum senang saat Dokter memberi kabar bahwa dua hari lagi dia akan dioperasi. Tak sadar malah ada setetes air mata jatuh dari ujung mataku. Ini air mata kebahagiaan. Aku senang melihat bibir itu menyunggingkan senyum termanisnya. Aku rela melakukan apapun untuknya.

                Aku menghampirinya. Aku dan Zahra bercanda, tertawa, lepas, bahagia, bersama. Diantara kami tidak peduli apakah ini hubungan dari dua insan yang berbeda, atau hubungan saudara yang terpisah. Kami tak memperdulikannya sama sekali. Namun, rasa ini kepadanya masih tetap sama. Aku mencintainya, lebih dari sekedar suadara yang terpisah. Aku mencintainya sebagai bagian yang teramat penting dari hidupku. “Oh iya, jadwal operasi kamu dua hari lagi, tapi yang jam tengah malam.” Kataku memberi informasi yang tadi Dokter sampaikan dan hanya dibalas anggukan manis dari Zahra.

                13 Februari 2016. Hari operasi tiba, jam menunjukkan pukul 23:00. Operasi pun dimulai.

                Setelah operasi, kubuka mataku perlahan. Aku melihat Dokter yang sedang mengamatiku dengan cermat, “selamat Zahra, operasimu berjalan sangat lancar.” Katanya dengan senyum menenangkan. Lalu satu per satu kulihat orang-orang yang mengelilingiku. “Zafran?”

                Tak terasa air mataku mengalir deras mengingat empat belas Februariku tahun lalu. Sekarang malam empat belas Februari 2017. Setahun berlalu semenjak kejadian itu. Namun aku masih tak bisa melupakannya. Dia Zafranku. Dia hidupku. Dia alasanku bertahan hidup sampai saat ini. Dia segalanya untukku. Kalung liontin berbentuk hati darinya, hanya penggambaran atas apa yang dia berikan untukku. Empat belas Februari 2016, untuk yang pertama kalinya aku mendapat hadiah valentine terbesar dalam hidupku.  Dia Valentineku. You are my valentine, Zaf.

                Kebahagiaanku hanya tersisa nol persen saat aku tahu Zafran tak ada disana. Walaupun ada Papah dan Alya yang menemaniku, namun Zafranlah kebahagiaan terbesarku.  Saat kutanya kemana Zafran, semua mematung, membisu, seperti angin, hanya menghembuskan nafas mereka. Mereka hanya memberikan surat dan kotak merah muda kepadaku. Tetapi aku mau Zafran, bukan sepucuk surat maupun kotak kecil merah muda. Alya dan Papah pergi meninggalkanku sendirian di ruangan yang serba putih ini.

                Perlahan, kubuka kotak kecil merah muda. Seakan bom atom meledak di jantungku, rasa sakit mengalir disetiap pembuluh darahku, paru-paru yang tak sanggup menukarkan oksigen, pedang tertajam di dunia menembus dadaku, semua rasa sakit seperti itu bercampur menjadi satu saat aku membaca surat itu.

                “Kamu gak perlu ngasih apapun buat hadiah valentine untukku, Zaf. Kamu gak perlu ngasih apapun. Aku Cuma perlu kamu ada, disini, disampingku, bersamaku. Zafraaan!” Aku menangis histeris. Seandainya aku menjadi seseorang yang baik dari awal. Aku tidak akan mengenal alkohol dan dunia semacam itu. Aku tidak akan sesakit ini. Aku tidak akan membuatnya mengorbankan dirinya untukku seperti ini.

14 Februari 2016

Selamat ulang tahun, Zahra. Maaf  aku tak ada di sampingmu saat ini maupun nanti. Tapi aku senang tahu bahwa mata cantikmu kembali terbuka. Kamu masih bisa tersenyum manis lagi. Walaupun aku tak bisa melihatnya lagi, tapi aku bisa membayangkan mata dan senyum itu disini. Tapi kalau ternyata kamu gak senyum waktu baca surat ini awas saja. Kamu harus tersenyum, menangis tidak apa-apa, tapi menangisnya sambil tersenyum. Hehehe. Terimakasih kamu sudah ada di hidupku. Meski ternyata cinta kita terhalang pahitnya dinding persaudaraan, namun aku tetap mencintaimu sebagai bagian terpenting dalam hidupku.

Happy Valentine, Zah. Kamu ingin dapat hadiah valentine kan? Aku kasih hati aku buat kamu. Itu bentuk rasa cinta aku ke kamu. Tapi aku gak sempet beli hadiah ulang tahun buat kamu, gapapa kan?

Ketika mencintai seseorang sampai pada titik rela melakukan apapun untuknya, saat itulah kebahagiaan sesungguhnya. Aku mencintaimu. Aku memang tak bisa lagi di sampingmu. Namun aku berada di hatimu. Jaga hatimu baik-baik. Zahra Athaya. You are my valentine.

Zafran Askhiya,

Penulis

Cerpen

Aisyah

Aisyah Putri Salsabila, Mading Bianglala 

 

 

 

 

 

 

 

 

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>